MAKALAH HEMATOLOGI III (ANEMIA APLASTIK)


 MAKALAH HEMATOLOGI III
“ANEMIA APLASTIK”



             NAMA               : APRILIA MANGAPE

             NIM                   : 18 3145 353 089
             KELAS              : 2018 C
   

PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
FAKULTAS FARMASI, TEKNOLGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS MEGA REZKY
MAKASSAR
2020/2021


KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas Rahmat dan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan Makalah Hematologi III dengan baik. Dengan tujuan untuk melengkapi tugas dan tanggung jawab saya sebagai Mahasiswa D.IV Teknologi Laboratorium Medis Universitas Mega Rezky Makassaar
Dalam penyusunan Makalah Hematologi III tentang Anemia Aplastik ini , Saya menyadari masih banyak kekurangan yang dibuat baik sengaja maupun tidak sengaja, dikarenakan keterbatasan ilmu pengetahuan dan wawasan dan pengalaman yang saya miliki. Oleh karena itu Saya memohon maaf atas kekurangan saya tersebut dan saya tidak menutup diri terhadap segala saran dan kritik serta masukan yang bersifat kontruktif bagi diri penulis.
Akhir kata saya mengucapkan terimah kasih dan saya berharap Makalah Hematologi III yang sudah saya susun ini dapat memberikan inspirasi bagi pembaca dan penulis yang lain. Dan saya juga berharap agar makalah ini menjadi acuan yang baik dan berkualitas.

                                                                                                
                                                 
                                                                                                        Makassar, 26 Maret 2020


DAFTAR ISI

Sampul…………………………………………………………………………..................................
Kata Pengantar…………………………………………………………………….............................
BAB I PENDAHULUAN
A.    Pengertian Anemia Aplastik………………………………………………..................................
B.     Tujuan Umum……………………………………………………………...................................
C.    Tujuan Khusus……………………………………………………………...................................
BAB II
      A. PEMBAHASAN
BAB III
      A. Kesimpulan dan Saran …………………………………………………….................................
      B. Daftar Pustaka……………………………………………………………...................................

BAB I
PENDAHULUAN
   A. Pengertian Anemia Aplastik
Anemia aplastik adalah anemia yang disertai oleh pansitopenia yang merupakan suatu keadaan yang di tandai oleh adanya anemia, leucopenia, dan trombositopenia pada darah tepi. Berdasarkan etiologinya, anemia aplastik di bagi menjadi acquired asplastik anemia dan congenital aplastik anemia. Berdasarkan derajat keparahan, anemia aplastik diklasifikasikan menjadi derajat sedang, berat dan sangat berat.
Anemia aplastik adalah anemia yang disertai oleh pansitopenia yang merupakan suatu keadaan yang di tandai oleh adanya anemia, leucopenia, dan trombositopenia pada darah tepi. Hal ini disebabkan karena adanya kelainan primer pada sumsum tulang dalam bentuk aplasia atau hipoplasia tanpa adanya infiltrasi, supresi atau pendesakan sumsum tulang. Teori terjadnya kegagalan sumsum tulang pada hematopoiesis adalah terjadinya defek pada sumsum tulang atau kerusakan sel-sel induk. Berdasarkan etiologinya, anemia aplastik dibagi menjadi acquired aplastik anemia dan congenital aplastik anemia.
Insidensi anemia aplastik menunjukan adanya variabilitas geografis. Insiden anemia aplastik derajat sedang hingga berat di laporkan frekuensi dari anemia aplastik yang terlihat di rumah sakit di Negara asia jauh lebih tinggi dari pada yang di laporkan dari barat. Hypoplastik myelodysplastik sindrom (MDS) kadang-kadang sangat sulituntuk di pisahkan dari anemia aplastik menggunakan kriteria morfologi standar.
Anemia aplastikmerupakan anemia normokromik normositer yang disebabkan oleh disfungsi sumsum tulang, sedemikian sehingga sel darah yang mati tidak terganti. Anemia aplastik adalah anemia yang disertai dengan pansitopenia pada darah tepi yang disebabkan oleh kelainan primer pada sumsum tulang dalam bentuk aplastia tanpa adanya infiltrasi, supresi, atau pendesakan sumsum tulang.
   B. Tujuan Umum
Setelah mengikuti makalah ini mahasiswa dipersiapkan untuk mempunyai ketrampilan di dalam mengelola penyakit anemia aplastik melalui pembelajaran pengalaman klinis, dengan didahului serangkaian kegiatan berupa pre-asesment, diskusi, role play, dan berbagai penelusuran sumber pengetahuan.
   C.Tujuan Khusus
               Setelah mengikuti makalah ini mahasiswa akan memiliki kemampuan
      1. Melakukan diagnosis anemia aplastik beserta diagnosis banding
2    2. Memberikan tata laksana pasien anemia aplastik dan merujuk bila terjadi komplikasi
      3. Memberikan penyuluhan pada keluarga mengenai perjalanan penyakit.



BAB II
PEMBAHASAN
 Anemia merupakan kondisi berkurangnya sel darah merah (eritrosit) dalam sirkulasi darah atau masa hemoglobin (Hb) sehingga tidak mampu memenuhi fungsinya sebagai pembawa oksigen ke seluruh jaringan. Pengertian anemia secara labolatorikadalah suatu keadaan apabila terjadinya penurunan kadar Hb di bawah normal, kadar eritrosit dan hematokrit, dan anemia adalah suatu keadaan yang di tunjukkan dengan kadar Hb lebih rendah dari batas normal untuk kelompok orang yang bersangkutan. Anemia juga didefenisikan sebagai suatu penurunan massa sel darah merah atau total Hb. Dimana secara lebih tepat dikatakan kadar Hb normal untuk wanita yang sudah menstruasi adalah 12,0 g/dL dan untuk ibu hamil 11,0 g/dL.
Anemia adalah suatu konsentrasi apabila hemoglobin <105 g/L atau penurunan kapasitas darah dalam membawa oksigen hal tersebut terjadi akibat penurunan produksi sel darah merah, atau penurunan Hb dalam darah. Anemia sering didefenisikan sebagai penurunan kadar Hb darah sampai dibawah rentang normal.
Anemia aplastik adalah anemia yang disertai oleh pansitopenia yang merupakan suatu keadaan yang di tandai oleh adanya anemia, leucopenia, dan trombositopenia pada darah tepi. Berdasarkan etiologinya, anemia aplastik di bagi menjadi acquired asplastik anemia dan congenital aplastik anemia. Berdasarkan derajat keparahan, anemia aplastik diklasifikasikan menjadi derajat sedang, berat dan sangat berat.
Anemia aplastik adalah anemia yang disertai oleh pansitopenia yang merupakan suatu keadaan yang di tandai oleh adanya anemia, leucopenia, dan trombositopenia pada darah tepi. Hal ini disebabkan karena adanya kelainan primer pada sumsum tulang dalam bentuk aplasia atau hipoplasia tanpa adanya infiltrasi, supresi atau pendesakan sumsum tulang. Teori terjadnya kegagalan sumsum tulang pada hematopoiesis adalah terjadinya defek pada sumsum tulang atau kerusakan sel-sel induk. Berdasarkan etiologinya, anemia aplastik dibagi menjadi acquired aplastik anemia dan congenital aplastik anemia.
Anemia aplastik adalah salah satu jenis kelainan darah yang disebabkan oleh kegagalan sumsum tulang untuk menghasilkan sel darah. Pada kondisi ini, sumsum tulang tidak dapat memproduksi salah satu atau seluruh sel darah, termasuk sel darah merah, sel darah putih dan platelet. Adapun penyebab anemia aplastik terdapat dua jenis anemia aplastik, yaitu anemia aplastik yang di turunkan. Anemia aplastik yang di turunkan biasanya di sebabkan oleh kerusuhan gen. Beberapa penyakit keturunan yang dapat menimbulkan anemia aplastik antara lain adalah anemia Fanconi, Sindrom ShwachmanDiamond, kelainan ini biasanya diidap oleh anak-anak atau pada usia muda. Sedangkan anemia aplastik bisanya terjadi pada orang dewasa.
Diagnosis anemia aplastik ditegakkan berdasarkan keadaan pansitopenia yang ditandai oleh anemia, leukopenia dan trombositopenia pada darah tepi.4,5,11-13 Keadaan inilah yang menimbulkan keluhan pucat, perdarahan dan demam yang disebabkan oleh infeksi. Pada pemeriksaan fisik, tidak ditemukan hepatosplenomegali atau limfadenopati. Di samping keadaan pansitopenia, pada hitung jenis juga menunjukan gambaran limfositosis relatif. Diagnosis pasti anemia aplastik ditentukan berdasarkan pemeriksaan aspirasi sumsum tulang yang menunjukkan gambaran sel yang sangat kurang, terdapat banyak jaringan ikat dan jaringan lemak, dengan aplasi sistem eritropoetik, granulopoetik dan trombopoetik.
Penyebab anemia aplastik sulit ditentukan, terutama karena banyak kemungkinan yang harus disingkirkan. Jika tidak ditemukan penyebab yang pasti maka digolongkan ke dalam penyebab idiopatik.4 Pendapat lain menyatakan bahwa penyebab terbanyak dari kegagalan sumsum tulang adalah iatrogenik karena kemoterapi sitostatik atau terapi radiasi.3,7 Kerusakan yang terjadi pada anemia aplastik terdapat pada sel induk dan ketidakmampuan jaringan sumsum tulang untuk memberi kesempatan sel induk untuk tumbuh dan berkembang dengan baik. Hal ini berkaitan erat dengan mekanisme yang terjadi seperti toksisitas langsung atau defisiensi selsel stromal. Penyimpangan proses imunologis yang terjadi pada anemia aplastik berhubungan dengan infeksi virus atau obat-obatan yang digunakan, atau zat-zat kimia.9 Hematopoesis normal yang terjadi di dalam sumsum tulang, merupakan interaksi antara progenitor hematopoetik stem cell dengan lingkungan mikro (microenvironment) pada sumsum tulang. Lingkungan mikro tersebut mengatur hematopoesis melalui reaksi stimulasi oleh faktor pertumbuhan hematopoetik.4,9 Sel-sel hematologik imatur dapat terlihat dengan pemeriksaan flouresent activate flow citometry, yang dapat mendeteksi sel antigen CD34+ dan adhsesi protein kurang dari 1% pada sumsum tulang normal. 3,10 Anemia aplastik dapat terjadi secara heterogen melalui beberapa mekanisme yaitu kerusakan pada lingkungan mikro, gangguan produksi atau fungsi dan faktor-faktor pertumbuhan hematopoetik, dan kerusakan sumsum tulang melalui mekanisme imunologis.
Anemia aplastik (AA) adalah salah satu bentuk kegagalan sumsum tulang yang mengancam nyawa yang diperantarai oleh immunitas de ngan karakteristik munculnya T cells yang reaktif (1). T-cell tersebut akan merusak hematopoietic stem cells (HSCs), progenitors, dan sel darah yang sudah dewasa/matang, sehingga menyebabkan hipoplasia sumsum tulang yang fatal dan pansitopenia. Aspirin dosis rendah dikenal sebagai antiplatelet yang dipakai secara luas untuk tujuan prevensi primer maupun sekunder penyakit kardiovaskuler, stroke, penyakit pembuluh darah perifer. Hasil observasi eHealthMe study from FDA and social media reports menyebutkan bahwa sejak 2004 hingga Nopember 2013 sudah 146.090 pasien yang melaporkan efek samping aspirin dan 105 (0,07%) mengalami anemia aplastik. Hal menarik dari hasil observasi tersebut bahwa insiden anemia aplastik tertinggi di alami pasien yang menggunakan aspirin setelah 1-2 tahun yakni sebesar 62,5%. Sedangkan pada pasien yang menggunakan aspirin lebih dari 2 tahun bahkan lebih 10 tahun tidak dijumpai adanya anemia aplastik. Sebagian besar (77%) pelapor adalah pasien dengan usia >60 tahun.
Gejala Anemia Aplastik
Orang yang menderita anemia aplastik akan menunjukkan gejala sesuai jenis darah yang jumlahnya berkurang. Namun secara umum, penderita anemia aplastik dapat menunjukkan beberapa gejala berikut:
  • Mudah lebam atau memar
  • Luka sulit sembuh
  • Kelelahan
  • Sesak napas
  • Pusing
  • Kulit pucat
  • Sakit kepala
  • Nyeri dada
  • Dada berdebar
  • Mudah mengalami infeksi dan demam
  • Sering mengalami perdarahan (misalnya mimisan, mudah lebam atau memar, perdarahan gusi, dan BAB berdarah)
BAB III
PENUTUP
  A. Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah kali ini untuk mengetahui tentang pengertian anemia aplastic, jenis-jenis anemia aplastic, cara penulanranya, dan cra pengobatan dari anemia aplastic dan perbedaan anemia aplastic dan anemia lainnya.
  B. Saran
Saran pada makalah kali ini semoga makalah ini bisa menambah wawasan pada pembacadan bisa lebih mengembangkan ilmu tentang Hibridisasi. Apabila terdapat keselahan kata mohon di maafkan karena kita adalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan apabila ada saran yang ingin disampaikan sulahkan disampaikan kepada penulis.

DAFTAR PUSTAKA
  Chaudhary dan Syed.2016. Anemia Aplastic. India: Departement Of Pharmaedogy.

  Fitriani dan Nilamsari.2017. Faktor-faktor yang berhubungan dengan tekanan darah pada pekerja shift dan non-shift di Pt.XGresik. Bandung: Universitas Airlangga.

 Fitryadi dan Sutikno.2015. Pengenalan Jenis Golongan Anemia. Diponegoro:  Universitas Diponegoro.

   Iriani,anggraini.2014.Perbedaan Anemia Aplastik. Jakarta: EGC.

  Khasanah dan Ahlan.2019. Buku Saku Standar Operasional Prosedur Tindakan Keperawatan Anak. Surabaya: Media Sahabat Cendekia.

  Maharani, dkk. 2017. Perbedaan Anemia normal dan tidak normal. Semarang: KKUM.

 Noviyanto Antos hendro.2012. Aplikasi Sensor Tekanan MPXM2053GS8. Yogyakarta: Politeknik Mekatronika Samata Dharma.

Praptomo Agus. Perbandingan Hasil Pemeriksaan Anemia Aplastik dan Anemia lainnya. Kalimantan Timur: Jurnal Medika.

 B Subaiki.2013.Anemia Aplastik. Lampung: Universitas Lampung.

Handayani Wiwik.2014. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan  Sistem Hematologi. Bandung: EGC.

Komentar